Membangun Personal Branding Jurnalis di Media Sosial

Membangun Personal Branding Jurnalis di Media Sosial

Ditulis oleh Muhammad Naufal Aditya Bentar - 20 Oktober 2025

Profesi jurnalis memiliki peran penting dalam memberikan informasi dan menyampaikan peristiwa kepada publiks. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak masyarakat yang memandang sebelah mata profesi ini terutama jurnalis yang belum terkenal atau belum memiliki posisi senior di dunia pemberitaan. Pandangan ini menunjukkan bahwa reputasi jurnalis tidak hanya ditentukan dari kualitas liputan, tetapi personal branding di ruang digital.

Selama ini istilah branding sering dikaitkan dengan bidang marketing dan advertising. Di era digital, jurnalis perlu memahami konsep ini. Semakin banyak jurnalis berupaya membangun personal branding melalui media sosial seperti membagikan proses liputan hingga membangun interaksi dengan publik. Ketika seorang jurnalis mampu mengkomunikasikan profesionalisme secara konsisten melalui platform seperti Facebook, X (D/H Twitter), Instagram, YouTube, dan TikTok, maka publik akan lebih mengenal dan mempercayai sosok di balik berita yang dibaca. Seperti yang disampaikan Adornato (2022) membangun social media brand kini bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan profesional bagi jurnalis masa kini.

Langkah pertama dalam membangun citra profesional di dunia digital adalah memisahkan akun personal dan profesional. Banyak jurnalis memilih untuk memiliki dua akun yakni akun kehidupan pribadi dan akun aktivitas profesional. Pilihan ini membantu menjaga privasi dan tetap mempertahankan kredibilitas. Apabila hanya menggunakan satu akun, maka kehati-hatian menjadi kunci utama. Setiap unggahan harus mencerminkan profesionalitas karena di dunia digital, batas antara pribadi dan publik sering kali kabur. Pada akhirnya, keputusan untuk memisahkan akun personal dan profesional tetap bersifat situasional.

Setelah menentukan batas identitas daring, jurnalis perlu memilih platform yang tepat untuk aktif. Setiap media memiliki karakter dan audiens yang berbeda. Misal situs pribadi sebagai portofolio professional dan arsip karya jurnalistik. Akun media sosial seperti X, Facebook, Instagram, LikendIn untuk membangun networking dan kredibilitas. Platform video sharing, YouTube dapat memperkuat aspek visual storytelling.

Tampilan Laman YouTube Najwa Shihab
Sumber: Najwa Shihab - YouTube (2025)

Seperti Najwa Shihab, seorang jurnalis senior yang melakukan personal branding melalui YouTube. Najwa Shihab aktif membagikan konten di platform tersebut sehingga jangakauan kepada publik lebih luas. Hal yang sama pun dapat dilihat melalui akun Instagaram yang dimilikinya. Di dalam dunia profesional, ketika ingin dikenal dengan nama pribadi, maka buat nama akun yang hampir mirip dengan nama pribadi, seperti @NamaDepanNamaBelakang.


Foto Profil Akun Instagram Najwa Shihab
Sumber: Instagram (2025)

Langkah berikutnya adalah membuat profil media sosial yang kuat. Bio yang ringkas, foto profil profesional, dan deskripsi yang jelas tentang bidang liputan bisa menjadi “digital business card” efektif. Adornato (2022) menekankan bahwa profil media sosial adalah kesan pertama yang membentuk persepsi publik. Melalui media sosial, jurnalis dapat menampilkan afiliasi medianya, spesialisasi topik, serta nilai-nilai yang dipegang dalam praktik jurnalistik.

Kunci penting selanjutnya adalah menjaga konsistensi di semua platform mencakup foto profil nama pengguna dan bio yang sama. Jurnalis perlu rutin memantau, memperbaharui, dan berinteraksi dengan audiens di media sosial untuk memastikan informasi tetap relevan dan mencerminkan kondisi saat ini. Walaupun tidak ada rumus pasti seberapa sering harus mengunggah konten karena setiap platform memiliki karakter yang berbeda.

Sebelum menekan tombol “unggah” jurnalis perlu mengingat prinsip “think before you post”. Di media sosial, satu unggahan yang tidak dipertimbangkan secara matang dapat mempengaruhi reputasi professional selama bertahun-tahun. Setiap unggahan memiliki nilai bagi publik dan tidak melanggar prinsip jurnalistik. Sangat penting bagi seorang jurnalis agar menyadari batas-batas saat membagikan pikiran pribadi dan detail kehidupannya sehingga tanggung jawab professional untuk tetap bersikap adil, objektif, dan berimbang dilaksanakan.

Terakhir, tujuan dari semua langkah ini adalah menjadi “go-to journalist” yakni jurnalis yang diandalkan publik ketika mencari informasi dalam bidang tertentu. Jurnalis seperti ini bukan sekadar populer, tetapi dipercaya karena keahlian dan integritasnya. Untuk mencapai posisi ini,jurnalis perlu konsisten melakukan liputan orisianl, mengkurasi informasi terkait topik liputan, dan berbagai hasil liputan tersebut. Menjadi go-to journalist berarti menempatkan diri sebagai sumber informasi kredibel sekaligus manusiawi.

Membangun social media brand pada akhirnya bukan tentang mencari perhatian, tetapi menjaga kepercayaan. Di tengah derasnya arus informasi dan misinformasi, kehadiran jurnalis yang autentik dan beretika menjadi kebutuhan bagi publik akan kebenaran. Media sosial hanyalah alat, tetapi yang membuat bermakna adalah bagaimana jurnalis menggunakan ruang itu untuk tetap menjadi suara yang dapat dipercaya.

Rujukan

Adornato, A. (2022). Mobile and social media journalism : a practical guide for multimedia journalism (Second Edition). Routledge.

Instagram. (2025). https://www.instagram.com/najwashihab/

Najwa Shihab - YouTube. (2025). https://www.youtube.com/c/NajwaShihab

You Are Your Own brand - Ava Rose Marketing. (n.d.). Retrieved October 20, 2025, from https://avarosemarketing.co.uk/2020/12/18/you-are-your-own-brand/

Penulis: Muhammad Naufal Aditya Bentar
Penyunting: Widiastiana Vista Wijaya