Ketika Warga Jadi Reporter: Kekuatan Hingga Resiko Citizen Journalism

Ketika Warga Jadi Reporter: Kekuatan Hingga Resiko Citizen Journalism

Ditulis oleh Anindya Putriani & Luhut Parsaoran Marpaung - 21 Oktober 2025

Di tengah ramainya media sosial, citizen journalism atau jurnalisme warga telah menjadi kekuatan baru pada media Indonesia. Citizen Journalism, atau jurnalisme warga, merujuk pada kegiatan di mana seorang non-profesional seperti warga biasa menggunakan perangkat pribadi seperti smartphone dan berbagai platform media sosial (X, Instagram, TikTok) untuk menyebarkan informasi dan pandangan mereka sendiri. Konsep ini berawal dari kebutuhan warga untuk melawan arus utama media (mainstream) yang terkadang dianggap lamban atau kurang responsif terhadap isu-isu publik yang mendesak. Melalui platform digital, warga kini memiliki ruang untuk bersuara, membagikan fakta yang mereka lihat, bahkan memperkenalkan cerita baru tentang suatu isu. Tapi, dibalik kekuatan nya, citizen journalism juga menyimpan resiko yang besar.

KEKUATAN CITIZEN JOURNALISM: DARI JALANAN KE LINI MASA

Kekuatan Citizen Journalism dalam menggerakan isu publik terbukti dalam berbagai studi kasus global. Berdasarkan penelitian Salsabila & Adi (2022) menunjukkan bagaimana Citizen Journalism mempunyai peran besar dalam gerakan Black Lives Matter (BLM) tahun 2020. Gerakan ini awalnya populer karena video kematian George Floyd yang terekam oleh warga biasa di jalan. Video itu tersebar di X (D/H Twitter) dan menjadi pemicu protes global dalam menentang kekerasan polisi terhadap warga berkulit hitam.

Saat itu X berubah menjadi ruang peliputan alternatif. Ribuan pengguna X ikut “meliput” kejadian di lapangan, menyebarkan fakta, dan memberikan opini pribadi dari sudut pandang mereka sendiri. Dalam kasus ini, citizen journalism menjadi bentuk perlawanan online terhadap media arus utama yang sering menggambarkan orang kulit hitam dalam konteks negatif.

Salsabila & Adi (2022) juga menemukan bahwa emosi seperti marah dan kecewa menjadi elemen penting dalam laporan warga. Walaupun media profesional dilarang berpihak, jurnalisme warga justru menampilkan perasaan itu secara jujur. Ramai cuitan di X dengan huruf kapital dan makian seperti “F*** THE POLICE” bukan hanya luapan emosi warga saja, tetapi juga simbol perlawanan terhadap sistem yang dianggap tidak adil bagi warga berkulit hitam.

Maka dari sini bisa dilihat kekuatan besar citizen journalism, yaitu mereka mengedepankan sisi kemanusiaan. Alih-alih laporan yang kaku dan minim sisi kemanusiaan, para warga menulis dengan rasa emosi yang membuat publik tersentuh dan ikut bergerak. 

KETIKA WARGA JADI SUMBER KESADARAN SOSIAL

Dalam penelitian lain, Rumate et al. (2023) membahas tentang bagaimana gerakan BLM berdampak pada masyarakat Afro-Latinx di Amerika Serikat. Penelitian ini menegaskan bahwa aksi sosial seperti BLM lebih dari sekadar protes, tetapi juga soal kesadaran dan perubahan sosial yang disebarkan lewat informasi warga. 

Data yang ada menunjukkan bahwa BLM berhasil membuka mata publik soal ketimpangan sosial, dari pendidikan, ekonomi, sampai kekerasan aparat. Semua itu muncul karena warga biasa berani mendokumentasikan kenyataan isu secara langsung di lapangan. Dengan kata lain, citizen journalism jadi bahan bakar utama bagi gerakan sosial di jaman yang modern ini.

Media sosial juga memungkinkan untuk terbentuknya solidaritas dari berbagai negara. Dari Amerika, isu rasisme dan kekerasan polisi menyebar ke seluruh dunia. Orang dari berbagai negara pun ikut bersuara tanpa pernah bertemu langsung. Di sinilah kekuatan jaringan warga, mereka jadi bagian dari perubahan global hanya lewat satu tombol “post”.

POTENSI RESIKO CITIZEN JOURNALISM

Meskipun citizen journalism itu memiliki banyak sekali keuntungan, seperti cepatnya informasi menyebar tanpa adanya batasan ruang dan waktu dan tempat bagi masyarakat menyuarakan pengalaman atau cerita, tetapi citizen journalism juga memiliki resiko yang dampaknya sangat berpengaruh. Salah satu risiko utamanya adalah potensi penyebaran informasi yang tidak benar. Karena siapa pun bisa menjadi citizen journalism atau jurnalis warga, berita yang disebarkan biasanya tidak adanya pengecekan fakta karena citizen journalism tidak memiliki kode etiknya, sehingga hal tersebut dapat memunculkan kesalahan informasi. Selain itu, konten yang tersebar melalui citizen journalism menghasilkan konten yang terkadang bias, hal ini dapat terjadi karena konten yang diupload adalah konten untuk kepentingan pribadi atau konten yang ia sukai.

Jika tadi dari sisi pembaca memiliki banyaknya resiko sumber yang kurang jelas, sebagai sisi citizen journalismnya juga memiliki resiko yang besar, seperti saat sedang meliput hal-hal yang sensitif seperti demonstrasi atau konflik sosial, di beberapa momen citizen journalism dapat terkena imbasnya seperti terkena serangan saat demonstrasi, terkena intimidasi melalui komentar yang tersedia, atau tindakan hukum karena citizen journalism tidak memiliki perlindungan profesional seperti jurnalis resmi. Selain itu, konten yang diproduksi oleh citizen journalism juga mudah sekali untuk disalahgunakan atau dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab demi kepentingannya, seperti kepentingan politik.

Dari sisi sosial, citizen journalism sering kali membawa dampak yang cukup kompleks. Di sebuah sisi, citizen journalism membukakan ruang bagi suara-suara yang selama ini kurang atau tidak didengar. Tetapi di sisi yang berlawanan, kehadirannya citizen journalism juga dapat memunculkan perpecahan di ruang publik. Dalam gerakan seperti BLM, misalnya, banyak sekali postingan atau pendapat yang muncul dari citizen journalism yang justru dapat saling bertabrakan di antara pihak yang mendukung dan pihak yang tidak mendukung sehingga akhirnya memperlebarkan masalah yang terjadi di ruang publik.

ANTARA KEBEBASAN DAN TANGGUNG JAWAB

Kebebasan berbicara adalah inti dari jurnalisme warga. Tapi kebebasan juga datang bersama tanggung jawab. Warga menjadi “reporter”  harus sadar bahwa setiap postingan bisa mempunyai efek sosial yang besar, bisa menyelamatkan orang, tetapi juga bisa menyesatkan publik jika salah informasi.

Itu sebabnya, literasi media dan etika digital sangat penting. Warga perlu belajar cara verifikasi informasi, jaga privasi narasumber, dan hindari framing yang berlebihan. Media profesional dan jurnalis warga seharusnya bukan musuh, tetapi mitra. Media bisa belajar dari kecepatan dan kedekatan warga, sementara warga bisa belajar dari standar etik media.

Rujukan:

Salsabila, K., & Adi, I. R. (2022). RESISTING THROUGH CITIZEN JOURNALISM: A CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS ON THE BLACK LIVES MATTER MOVEMENT ON TWITTER. Rubikon : Journal of Transnational American Studies9(1), 38-54. https://doi.org/10.22146/rubikon.v9i1.73151

Rumate, J. R., de Fretes, C. H. J., & Siahainenia, R. R. (2023). Pengaruh gerakan BlackLivesMatter (BLM) terhadap kehidupan masyarakat Afro-Latinx di Amerika Serikat 2016-2021. COMSERVA: Jurnal Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat, 3(7), 2801–2817.

Peck, G. A. (2023, June 6). Citizen Journalism: With newsroom resources stretched thin, local news publishers consider whether and how to embrace community reporting | Editor and Publisher. https://www.editorandpublisher.com/stories/citizen-journalism-with-newsroom-resources-stretched-thin-local-news-publishers-consider-whether,244033

Penulis: Anindya Putriani & Luhut Parsaoran Marpaung
Penyunting: Olly Aurora