Semiotika di Balik Palu dan Perisai: Analisis "The Avengers" sebagai Mitologi Pop Culture

Semiotika di Balik Palu dan Perisai: Analisis "The Avengers" sebagai Mitologi Pop Culture

Ditulis oleh Alviora Orasfa Queensha – 29 Oktober 2025

Pendahuluan: Lebih dari Sekadar Pertarungan Superhero
Sejak Marvel Cinematic Universe (MCU) sejak tahun 2008 melalui film Ironman mencapai puncaknya dengan Avengers: Endgame (2019), fenomena superhero telah melampaui genre hiburan fiksi. Film-film Avengers (seperti The Avengers, Infinity War, dan Endgame) kini berfungsi sebagai mitologi pop culture modern sebuah kanvas yang merefleksikan nilai-nilai sosial, politik, dan bahkan kecemasan kolektif masyarakat global. Untuk memahami bagaimana film ini dapat memengaruhi persepsi massa dan mengapa ia menjadi blockbuster terlaris sepanjang masa, kita perlu mengupas lapisannya menggunakan semiotika, sebuah ilmu yang mempelajari tanda dan makna. Dengan menggunakan kerangka berpikir semiotika, khususnya dari Roland Barthes, kita dapat mengungkap ideologi dan mitos yang tersembunyi di balik kostum warna-warni, dialog heroik, dan palu Thor.

I. Semiotika Roland Barthes: Membedah Tanda Tiga Tahap
Semiotika, yang dikembangkan dari konsep linguistik Ferdinand de Saussure, menjadi alat analisis film yang tajam, terutama melalui model Barthes yang membedah tanda dalam tiga tingkatan: Denotasi, Konotasi, dan Mitos. Menurut Roland Barthes dalam karyanya Mythologies (1957), mitos adalah pidato atau bahasa di tingkat kedua (second-order signification). Mitos mengambil tanda (gabungan penanda dan petanda) dari tingkat pertama (denotasi dan konotasi) dan mengubahnya menjadi makna yang tampak alami (naturalisasi), padahal sebenarnya bersifat ideologis (Barthes, 2010). Dalam konteks film dan representasi film Avengers, analisis ini bekerja sebagai berikut:

1. Denotasi (Tingkat Deskriptif). Ini adalah makna literal dan yang dilihat mata.
Contoh: Perisai Captain America berwarna merah, putih, dan biru dengan bintang di tengahnya.
Contoh: Thanos mengenakan sarung tangan emas bertabur batu permata berwarna-warni.

2. Konotasi (Tingkat Asosiasi). Ini adalah makna yang ditambahkan berdasarkan asosiasi budaya dan emosional.
Contoh: Perisai Captain America (merah-putih-biru) berkonotasi sebagai patriotisme, kebenaran, dan idealisme Amerika Serikat, melambangkan masa lalu yang heroik dan kepahlawanan moral.
Contoh: Thanos dengan Sarung Tangan Keabadian berkonotasi sebagai ambisi absolut, keserakahan kekuasaan, dan upaya rasionalisasi terhadap genosida demi "kebaikan yang lebih besar."

3. Mitos (Tingkat Ideologi). Ini adalah makna yang dilekatkan oleh budaya, mengubah konotasi menjadi narasi yang seolah-olah universal dan tanpa kritik.
Mitos yang Dikonstruksi Avengers: Melalui film-filmnya, Avengers mengukuhkan Mitos Pahlawan Global (The Global Hero Myth) dan Mitos Keselamatan Melalui Intervensi AS (The American Intervention Myth).

Mitos Pahlawan di Era Keterbatasan Manusia
Fenomena film Marvel, khususnya saat film Avengers, berakar pada bagaimana film ini menawarkan pelarian dari kecemasan dunia nyata terorisme, ketidakpastian iklim, dan politik yang terfragmentasi dengan menawarkan solusi yang cepat dan pasti.


Sumber: Azwar & Auliana (2024)

1. Mitos Teknologi sebagai Penyelamat (The Technocratic Savior)
Tokoh Iron Man (Tony Stark) menjadi representasi paling kuat dari mitos ini.
Denotasi: Tony Stark adalah seorang insinyur kaya raya yang bertarung dengan kostum berteknologi tinggi.
Konotasi: Ia melambangkan kecerdasan, inovasi tanpa batas, dan individualisme Barat. Ia menyelesaikan masalah melalui teknologi dan modal.
Mitos: Tony Stark mengukuhkan mitos bahwa masalah kompleks dunia (seperti ancaman alien atau artificial intelligence yang jahat) dapat diselesaikan oleh kepintaran segelintir genius teknologi. Mitos ini melegitimasi kekuasaan technocrats (elit teknologi) dalam memimpin masa depan, sementara massa hanya perlu diatur dan diselamatkan.

2. Mitos Keluarga Pilihan (Chosen Family) dan Keterpecahan Ideologi
Tim Avengers sendiri, dengan anggota yang beragam (dewa Nordik, ilmuwan, supersoldier, mata-mata), menyajikan sebuah simbol sosial.
Konotasi: Mereka adalah sekelompok individu yang sangat berbeda, sering bertengkar (dimanifestasikan Civil War), namun disatukan oleh tujuan mulia. Mereka melambangkan keluarga yang dipilih (chosen family), menggantikan model keluarga tradisional.
Mitos: Kehadiran tim ini mengukuhkan Mitos Koalisi yang Efektif (The Effective Coalition Myth). Narasi ini menunjukkan bahwa meskipun kita memiliki perbedaan ideologi (misalnya, otoritarianisme Stark vs. idealisme Rogers), demi tujuan yang lebih besar, perpecahan dapat diatasi melalui kepemimpinan yang kuat. Ini menawarkan resolusi yang menenangkan terhadap polarisasi politik yang terjadi di masyarakat kontemporer.

Sebuah Kajian Media: Avengers sebagai Representasi Epik Budaya Populer
Keberhasilan Avengers tidak hanya terletak pada narasi internalnya, tetapi juga pada bagaimana ia berinteraksi dengan media dan budaya populer.

1. Konsep Intertextuality (Antartekstualitas)
Film Avengers adalah puncak dari 22 film yang saling terhubung (MCU). Konsep intertextuality (Kristeva, 1980) menjelaskan bagaimana makna sebuah teks (film Endgame) hanya dapat dipahami sepenuhnya melalui referensi ke teks-teks lain yang mendahuluinya. Penonton modern berinvestasi waktu selama satu dekade untuk memahami lelucon, trauma, dan hubungan antarkarakter. Investasi emosional ini mengubah Avengers dari sekadar film menjadi pengalaman budaya kolektif yang diperkuat oleh obrolan media sosial, meme, dan analisis fan theory. Ini membuat Avengers menjadi pop culture yang sangat imersif.

2. Representasi Gender dan Women Power
Kajian media juga fokus pada representasi. Avengers: Endgame, khususnya, memuat adegan ikonik di mana semua superhero perempuan bersatu untuk bertarung. Kutipan Kajian Media: Penelitian oleh Ida (2014) dalam Studi Media dan Kajian Budaya, menekankan bahwa film tidak hanya merefleksikan realitas sosial, tetapi juga mengonstruksi realitas. Adegan Women Power dalam Endgame merespons tuntutan budaya pop kontemporer yang mendambakan representasi perempuan yang kuat dan dominan, menantang mitos maskulinitas yang selama ini mendominasi genre superhero (Ridaryanthi & Sinuyul, 2021).

Penutup: Masa Depan Mitologi Superhero
Melalui lensa semiotika Barthes, film Avengers terungkap bukan sekadar tontonan aksi, melainkan sebuah arsip ideologi yang dikemas dalam hiburan. Mitos-mitos yang mereka angkat—penyelamatan oleh teknologi, kepahlawanan global, dan persatuan ideologis memberikan jawaban yang sederhana dan meyakinkan terhadap kecemasan yang kompleks di dunia nyata. Sebagai fenomena pop culture global, Avengers telah mengukuhkan superhero sebagai mitologi terpenting abad ke-21. Namun, tugas kritis para konsumen media dan akademisi adalah untuk terus mengupas kostum dan perisai itu, mempertanyakan ideologi yang ditawarkan, dan tidak membiarkan mitos yang ada tertelan begitu saja sebagai kebenaran yang alami.

Rujukan:

Azwar, A., & Auliana, I. (2024). Representasi Rekayasa Sosial dalam Film Unlocked (Analisis Semiotika Roland Barthes). EKSPRESI DAN PERSEPSI : JURNAL ILMU KOMUNIKASI7(1), 91–105. https://doi.org/10.33822/jep.v7i1.7186

Barthes, R. (2010). Imaji, musik, teks (Terj.). Jalasutra.

Belch, G. E., & Belch, M. A. (2020). Advertising and promotion: An integrated marketing communications perspective (12th ed.). McGraw-Hill Education.

Ida, R. (2014). Studi media dan kajian budaya. Prenada Media Grup.

Kurniawan, H. (2001). Semiotika komunikasi. Mitra Wacana Media.

Kristeva, J. (1980). Desire in language: A semiotic approach to literature and art. Columbia University Press.

Ridaryanthi, M., & Sinuyul, C. J. (2021). Representation of female superhero and gender roles in the Avengers: Endgame. Komunika: Jurnal Dakwah dan Komunikasi, 15(2), 139–154. https://doi.org/10.24090/komunika.v15i2.4580

The FliteCast. (2025). https://www.theflitecast.com/

Penulis: Alviora Orasfa Queensha

Penyunting: Ade Putranto Prasetyo Wijiharto Tunggali