Komunikasi Masa Kini: Transformasi Melalui Media Sosial

Komunikasi Masa Kini: Transformasi Melalui Media Sosial

Ditulis oleh Naura Wijaya Putri - 30 Oktober 2025

Kemajuan teknologi digital telah mengubah secara fundamental cara manusia berkomunikasi. Jika sebelumnya komunikasi lebih sering dilakukan melalui saluran konvensional seperti koran, radio, dan televisi, maka saat ini media sosial menjadi jalur utama bagi masyarakat untuk berinteraksi dan menyampaikan pesan. Platform seperti Instagram, TikTok, dan X (D/H Twitter) memungkinkan setiap orang menjadi komunikator aktif yang dapat menyebarkan informasi dan membentuk opini publik dengan cepat dan luas.

Perubahan ini menunjukkan transisi dari komunikasi satu arah menjadi komunikasi dua arah yang partisipatif. Pengguna tidak lagi hanya sebagai penerima pesan, tetapi juga sebagai pembuat informasi. Media sosial menghilangkan batasan antara pengirim dan penerima pesan, serta membuat ruang komunikasi lebih dinamis dan interaktif. Lipschultz (2024) menggambarkan media sosial sebagai wujud baru komunikasi digital yang berasal dari budaya partisipatif, di mana pengguna aktif terlibat dalam pembuatan dan penyebaran pesan. Komunikasi di media sosial tidak lagi bersifat hierarkis seperti media massa tradisional, melainkan horizontal, terbuka, dan demokratis.

Media sosial mempunyai ciri khas berupa interaktivitas yang intens, pembentukan identitas bagi penggunanya, serta kebebasan untuk berbagi konten dalam komunitas yang berkembang. Dinamika jejaring sosial daring ini terkait erat dengan proses globalisasi yang mampu menghubungkan berbagai budaya yang berbeda. Jejaring sosial berfungsi sebagai infrastruktur teknis yang interaktif dan semakin dapat diakses melalui perangkat mobile. Namun, kekuasaan dan kontrol dalam platform ini sering menimbulkan ambiguitas dan paradoks, terutama dalam konteks gerakan sosial yang muncul

Kemajuan cepat media sosial membawa perubahan besar dalam peran pekerjaan berbagai profesi seperti jurnalis, praktisi hubungan masyarakat, dan pemasar. Selain itu, media sosial turut merevolusi industri periklanan dan pemasaran dengan menitikberatkan pada cara untuk menjangkau serta mengaktifkan interaksi dalam jejaring sosial. Erwan Ibrahim et al. (2025) menekankan bahwa media sosial memainkan peran penting dalam kehidupan generasi muda. Generasi Z menggunakan media sosial sebagai wadah ekspresi diri, alat komunikasi, dan tempat membentuk identitas digital. Komunikasi melalui media sosial lebih visual, cepat, dan emosional, sesuai dengan karakter generasi yang tumbuh di era teknologi maju.

Agar cerita, gambar, dan video dapat didistribusikan secara efektif, penting untuk memahami karakteristik platform online dan konteks penggunaannya. Dalam dunia pemasaran, penyampaian pesan harus mampu menjalin hubungan yang kuat dengan audiens, terutama karena kemudahan akses media sosial melalui perangkat mobile membuat fokus perhatian pengguna menjadi terbagi-bagi. Konten di media sosial pada dasarnya merupakan bentuk penceritaan manusia yang bertujuan untuk menginformasikan dan meyakinkan. Berbagai jejaring sosial menyediakan fitur khusus sebagai sarana penceritaan, seperti Facebook “walls,” Twitter feeds, Instagram “stories,” Pinterest “pins,” dan LinkedIn “post”.

Dalam lingkungan digital, konten harus bersaing di tengah banyaknya gangguan dan informasi yang bertebaran. Melalui pendekatan uses and gratifications, pengguna media memilih konten berdasarkan harapan dan kebutuhannya. Kepuasan yang diperoleh dari konsumsi konten akan memengaruhi keputusan audiens untuk terus menggunakan media tersebut di masa mendatang. Sebaliknya, pengguna lebih cenderung menjauhi konten yang tidak memberikan manfaat emosional atau psikologis. Media perlu secara konsisten memberikan nilai atau penghargaan bagi audiens agar tidak kehilangan pengikutnya.

Dalam arti yang lebih luas, media sosial punya kemampuan untuk mengubah budaya secara signifikan. Melalui media sosial, suara-suara yang biasanya diabaikan oleh media konvensional kini bisa terungkap. Sepanjang abad ke-20, pemilihan berita didominasi oleh editor di surat kabar, radio, dan televisi yang hanya memilih sejumlah kecil peristiwa, sehingga banyak informasi tidak pernah sampai ke publik. Kini, media sosial memungkinkan penyebaran berita dan peristiwa secara lebih bebas, tetapi sekaligus dapat menjadi alat untuk menyebarkan konten yang memperkuat dan memanipulasi opini serta perilaku masyarakat. Media tradisional dan media sosial saling berinteraksi dan berpengaruh satu sama lain, bahkan melewati perbedaan ideologi, serta memengaruhi proses diskusi dan keterlibatan publik.

Kehadiran dunia media sosial yang rumit bisa jadi sangat membingungkan bagi masyarakat luas. Setiap individu harus proaktif dalam mengembangkan kemampuan literasi media agar dapat memahami cara individua tau kelompok menjalankan taktik di platform media sosial. Selain itu, karena informasi tersebar secara luas, masyarakat semua perlu belajar untuk mengenali dan memilah mana informasi yang benar dan mana yang palsu.

Rujukan:

Erwan Ibrahim, F., Sukmana, O., & Wahyudi, W. (2025). Peran Media Sosial Dalam Pola Komunikasi Generasi-Z; Antara Tantangan Dan Peluang. COMSERVA : Jurnal Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat, 4(11), 3945–3953. https://doi.org/10.59141/comserva.v4i11.2999

Lipschultz, J. H. (2024). Social Media Communication: Concepts, Practices, Data, Law and Ethics. (Fourth Edition). Routledge.

The Transformative Power of Social Media - Atlantic International University. (n.d.). Retrieved October 30, 2025, from https://www.aiu.edu/innovative/the-transformative-power-of-social-media/

Penulis: Naura Wijaya Putri

Penyunting: Widiastiana Vista Wijaya