Ditulis oleh Naura Wijaya Putri - 30
Oktober 2025
Kemajuan
teknologi digital telah mengubah secara fundamental cara manusia berkomunikasi.
Jika sebelumnya komunikasi lebih sering dilakukan melalui saluran konvensional
seperti koran, radio, dan televisi, maka saat ini media sosial menjadi jalur
utama bagi masyarakat untuk berinteraksi dan menyampaikan pesan. Platform
seperti Instagram, TikTok, dan X (D/H Twitter) memungkinkan setiap orang
menjadi komunikator aktif yang dapat menyebarkan informasi dan membentuk opini
publik dengan cepat dan luas.
Perubahan
ini menunjukkan transisi dari komunikasi satu arah menjadi komunikasi dua arah
yang partisipatif. Pengguna tidak lagi hanya sebagai penerima pesan, tetapi
juga sebagai pembuat informasi. Media sosial menghilangkan batasan antara
pengirim dan penerima pesan, serta membuat ruang komunikasi lebih dinamis dan
interaktif.
Media
sosial mempunyai ciri khas berupa interaktivitas yang intens, pembentukan
identitas bagi penggunanya, serta kebebasan untuk berbagi konten dalam
komunitas yang berkembang. Dinamika jejaring sosial daring ini terkait erat
dengan proses globalisasi yang mampu menghubungkan berbagai budaya yang
berbeda. Jejaring sosial berfungsi sebagai infrastruktur teknis yang interaktif
dan semakin dapat diakses melalui perangkat mobile. Namun, kekuasaan dan
kontrol dalam platform ini sering menimbulkan ambiguitas dan paradoks, terutama
dalam konteks gerakan sosial yang muncul
Kemajuan
cepat media sosial membawa perubahan besar dalam peran pekerjaan berbagai
profesi seperti jurnalis, praktisi hubungan masyarakat, dan pemasar. Selain
itu, media sosial turut merevolusi industri periklanan dan pemasaran dengan
menitikberatkan pada cara untuk menjangkau serta mengaktifkan interaksi dalam
jejaring sosial.
Agar
cerita, gambar, dan video dapat didistribusikan secara efektif, penting untuk
memahami karakteristik platform online dan konteks penggunaannya. Dalam
dunia pemasaran, penyampaian pesan harus mampu menjalin hubungan yang kuat
dengan audiens, terutama karena kemudahan akses media sosial melalui perangkat
mobile membuat fokus perhatian pengguna menjadi terbagi-bagi. Konten di media
sosial pada dasarnya merupakan bentuk penceritaan manusia yang bertujuan untuk
menginformasikan dan meyakinkan. Berbagai jejaring sosial menyediakan fitur
khusus sebagai sarana penceritaan, seperti Facebook “walls,” Twitter
feeds, Instagram “stories,” Pinterest “pins,” dan LinkedIn
“post”.
Dalam
lingkungan digital, konten harus bersaing di tengah banyaknya gangguan dan
informasi yang bertebaran. Melalui pendekatan uses and gratifications, pengguna
media memilih konten berdasarkan harapan dan kebutuhannya. Kepuasan yang
diperoleh dari konsumsi konten akan memengaruhi keputusan audiens untuk terus
menggunakan media tersebut di masa mendatang. Sebaliknya, pengguna lebih
cenderung menjauhi konten yang tidak memberikan manfaat emosional atau
psikologis. Media perlu secara konsisten memberikan nilai atau penghargaan bagi
audiens agar tidak kehilangan pengikutnya.
Dalam
arti yang lebih luas, media sosial punya kemampuan untuk mengubah budaya secara
signifikan. Melalui media sosial, suara-suara yang biasanya diabaikan oleh
media konvensional kini bisa terungkap. Sepanjang abad ke-20, pemilihan berita
didominasi oleh editor di surat kabar, radio, dan televisi yang hanya memilih
sejumlah kecil peristiwa, sehingga banyak informasi tidak pernah sampai ke
publik. Kini, media sosial memungkinkan penyebaran berita dan peristiwa secara
lebih bebas, tetapi sekaligus dapat menjadi alat untuk menyebarkan konten yang
memperkuat dan memanipulasi opini serta perilaku masyarakat. Media tradisional
dan media sosial saling berinteraksi dan berpengaruh satu sama lain, bahkan
melewati perbedaan ideologi, serta memengaruhi proses diskusi dan keterlibatan
publik.
Kehadiran
dunia media sosial yang rumit bisa jadi sangat membingungkan bagi masyarakat
luas. Setiap individu harus proaktif dalam mengembangkan kemampuan literasi
media agar dapat memahami cara individua tau kelompok menjalankan taktik di
platform media sosial. Selain itu, karena informasi tersebar secara luas, masyarakat
semua perlu belajar untuk mengenali dan memilah mana informasi yang benar dan
mana yang palsu.
Rujukan:
Erwan Ibrahim, F., Sukmana, O.,
& Wahyudi, W. (2025). Peran Media Sosial Dalam Pola Komunikasi Generasi-Z;
Antara Tantangan Dan Peluang. COMSERVA : Jurnal Penelitian Dan Pengabdian
Masyarakat, 4(11), 3945–3953.
https://doi.org/10.59141/comserva.v4i11.2999
Lipschultz, J. H. (2024). Social
Media Communication: Concepts, Practices, Data, Law and Ethics. (Fourth
Edition). Routledge.
The Transformative Power of Social Media - Atlantic International University. (n.d.). Retrieved October 30, 2025, from https://www.aiu.edu/innovative/the-transformative-power-of-social-media/
Penulis: Naura Wijaya Putri
Penyunting: Widiastiana Vista Wijaya